Computer Science '09

Minggu, 03 Januari 2010

Manfaat Hutan


Manfaat Hutan


Manfaat Hutan luar biasa besarnya. Selain menyediakan kayu dan produk-produk lainnya, hutan menyimpan sejumlah besar informasi genetik, mengatur iklim dan tata air, melindungi dan memperkaya tanah, mengendalikan hama dan penyakit, mengatur penyerbukan tumbuhan bermanfaat dan menyebarkan benihnya, menjaga kualitas air, menyediakan pemandangan indah dan memperkaya kita secara spiritual.



Hutan juga sebagai paru-paru alam, hutan juga bisa di gunakan sebagai menara air. Jika huatan tetap lestari, tak akan terjadi yang namanya kekeringan pada musim kemarau dan kebanjiran pada musim hujan


Hutan juga bisa menciptakan biaya besar. Tiap hektar hutan sama dengan berkurangnya satu hektar luas lahan yang dapat digunakan petani untuk bercocok tanam atau beternak. Hewan-hewan hutan dapat menjadi hama. Aktivitas Hutan bersaing dengan aktivitas lainnya dalam memperoleh air.


Banyak orang percaya bahwa ekonomi dapat memberikan informasi mengenai saat manfaat hutan lebih besar dari biaya pemeliharaannya dan hutan yang mana dapat ditebang dan hutan yang mana harus dilindungi. Mereka juga seringkali mengasumsikan bahwa studi semacam itu akan membuktikan bahwa melindungi sebagian besar hutan adalah lebih baik, dan ketika para perumus kebijakan menyadarinya, hutan akan langsung dikonservasi.


Robert Nasi dan Sven Wunder dari CIFOR dan Jose Joaquin Campos dari CATIE tidak sepenuhnya mempercayai hal tersebut. Dalam tulisan "Jasa Ekosistem Hutan: Dapatkah Mereka Membayar Upaya Kita Keluar dari Deforestasi?”, mereka memperdebatkan bahwa dalam banyak kasus, jasa-jasa tertentu yang disediakan hutan, belum banyak diketahui, bahwa berusaha menaksir nilai hutan di lokasi tertentu akan membawa kita ke dunia fiksi ilmiah. Mereka menunjukkan bahwa seringkali berbagai teknik penaksiran nilai ekonomi yang berbeda memberikan hasil yang berbeda. Mereka juga mengetengahkan bahwa teknik-teknik tersebut tidak dapat secara tuntas membahas akibat skala besar atau jangka panjang berkurangnya hutan atau isu distribusi berkenaan dengan siapa yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan.


Hanya menaksir nilai sebuah hutan tidak prnah cukup. Untuk melestarikannya, harus ada insentif yang sepadan agar orang-orang tidak menebang hutan. Seringkali hal ini menyangkut menuntut pembayaran, karena orang-orang tersebut secara efektif mengendalikan hutan atau memiliki pengaruh politik. Menciptakan areal lindung dan menghapus kebijakan yang melarang penebangan hutan merupakan hal penting, tetapi hanya dapat dilakukan sejauh itu.


Usaha-usaha valuasi dapat memberikan hasil besar dengan menentukan jumlah yang harus dibayarkan kepada kelompok-kelompok yang berbeda agar mereka bersedia mempertahankan lahan berhutan. Hal tersebut lebih relevan daripada mencoba mengemukakan jumlah teoritis mengenai nilai “hutan”. Skema untuk membayar jasa lingkungan harus difokuskan pada hutan-hutan yang terancam tetapi masih dapat diselamatkan dari kehancuran dengan melakukan pembayaran dalam jumlah kecil.


Tentu saja perumus kebijakan ingin mengetahui nilai hutan. Tetapi bagi kebanyakan orang yang ingin menebang hutan tersebut masalah dasarnya adalah “tunjukkan padaku uangnya”. Diperlukan penelitian yang baik untuk mengetahui caranya.


INTERAKSI MASYARAKAT


Bagi masyarakat yang lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan hutan cagar alam G. Simpang maupun Gunung Tilu keberadaan hutan mempunyai arti yang sangat penting terutama dalam hal pemanfaatan hutan tersebut untuk kehidupan sehari-hari. Berbicara mengenai interaksi antara masyarakat dengan hutan berarti kita berbicara mengenai proses pemanfaatan hutan oleh masyarakat yang telah dilakukan dari generasi ke generasi. Dari tingkat interaksi ini dapat diketahui seberapa jauh masyarakat tergantung kepada hutan dan apa saja sumberdaya alam yang mereka manfaatkan dari hutan. Sumberdaya alam yang mereka manfaatkan dari hutan antara lain membuka lahan garapan, mengambil kayu bakar, tanaman obat-obatan, bahan bangunan, berburu binatang, kayu untuk kerajinan sapu, mengambil madu liar, rotan, penyadapan pohon aren, dan memanfaatkan sumber air yang ada di hutan.


Usaha, cara dan metode pelestarian hutan agar tidak gundul dan rusak akibat eksploitasi berlebih demi melestarikan lingkungan

Perambahan hutan tanpa perencanaan dan etika untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya sangatlah berbahaya karena dapat merusak alam dan habitat serta komunitas hewan yang ada di dalamnya. Metodenya antara lain :
1. Mencegah cara ladang berpindah / perladangan berpindah-pindah.
Terkadang para petani tidak mau pusing mengenai kesuburan tanah. Mereka akan mencari lahan pertanian baru ketika tanah yang di tanami sudah tidak subur lagi tanpa adanya tanggung jawabmembiarkan ladang terbengkalai dan tandus. Sebaiknya lahan pertanian dibuat menetap dengan menggunakan pupuk untuk menyuburkan tanah yang sudah tidak produktif lagi.


2. Waspadalah dan hati-hati terhadap api.
Hindari membakar sampah, membuang putung rokok, membuat api unggun, membakar semak, membakar obor, dan yang lain sebagainya yang dapat menyebabkan kebakaran hutan. Jika menyalakan api dekat atau di dalam hutan harus diawasi dan di pantau agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk. Kebakaran hutan dapat menggangu kesehatan manusia dan hewan di sekitar lokasi kebakaran dan juga tempat yang jauh sekalipun jika asap terbawa angina kencang.


3. Reboisasai lahan gundul dan metode tebang pilih.
Kombinasi kedua teknik adalah sesuatu yang wajib di lakukan oleh para pelilik sertifikan HPH atau Hak Pengelolaan Hutan. Para perusahaan penebang pohon harus memilih-milih pohon mana yang sudah cukup umur dan ukuran untuk di tebang. Setelah menebang satu pohon sebaiknya diikuti dengan penanaman kembali beberapa bibit pohon untuk menggantikan pohon yang di tebang tersebut. Lahan yantg sudah gundul dan rusak karena berbagai hal juga di usahakan di laksanakan reboisasi untuk mengembalikan pepohonan dan tanaman yang telah hilang.


4. Menempatkan penjaga hutan / polisi kehutanan / jagawana
Dengan menempatkan satuan pengaman hutan yanga jujur dan menggunakan teknologi dan persenjataan lengkap di harapkan mampu menekan maraknya aksi pengrusakan hutan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Nagi para pelaku kejahatan hutan di berikan sangsi yang tegas dan di hukum seberat-beratnya. Hutan adalah asset atau harta suatu bangsa yang sangat berharga yang harus di pertahankan keberadaannya demi anak cucu di masa depan.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan hutan yang terus-menerus di kawasan Cagar Alam Gunung Simpang dan Gunung Tilu. Faktor yang pertama adalah faktor ekonomi yaitu dengan lahan yang ada kebutuhan hidup masyarakat tidak tercukupi sehingga mereka mencari peluang-peluang lain yang dapat diambil dari hutan yang dapat menambah kebutuhan hidup mereka atau mereka memperluas lahan garapannya ke kawasan cagar alam. Faktor yang kedua adalah tidak adanya batasan yang jelas antara kawasan cagar alam dengan lahan masyarakat sehingga dengan tidak disadari masyarakat telah menggarap beberapa bagian lahan yang berada di kawasan cagar alam. Masalah batas ini, usaha terpenting yang perlu dilakukan adalah penyebaran informasi yang lebih intensif pada masyarakat mengenai daerah-daerah mana saja yang menjadi batas kawasan hutan, tidak hanya sekadar pembuatan batas-batas buatan yang tersebar pada beberapa tempat. Faktor yang ketiga adalah tidak adanya kawasan penyangga (buffer area) untuk memisahkan wilayah cagar alam dan lahan garapan masyarakat. Dengan adanya kawasan penyangga kebutuhan masyarakat yang tadinya diambil di hutan dapat dialihkan ke kawasan penyangga sehingga interaksi masyarakat dengan hutan/kawasan cagar alam akan berkurang, dan resiko-resiko kerusakan hutanpun akan berkurang.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda